Skip to main content

Indonesia dan Smartphone

Malam ini adik saya baru saja dibelikan sebuah handphone touch screen bermerek Samsung Corby II. Ya, saya memang yang mengusulkan untuk membeli telepon seluler semacam itu karena dengan harga dibawah satu juta sudah bisa mendapat handphone touchscreen yang fiturnya cukup lengkap.

Diambil dari jacquelineluxe.com
Saya akui, saya memang tergoda untuk membeli handphone touchscreen. Terlebih lagi setelah adanya booming handphone berperangkat lunak Android yang mayoritas diusung samsung dengan label Galaxy nya yang berplatform Android. Saya bisa dikatakan pernah sampai pada tahap ingin membelinya, uang sudah siap, tinggal beli lah istilahnya. Mengapa saya ingin membelinya?

Alasan sederhana ya mungkin karena handphone ini terlihat mewah dan canggih. Mewah kan ketika kita tidak memencet tombol? Mewah ketika handphone kita bisa gunakan sebagai GPS. Terlebih lagi, handphone ini masuk katagori smartphone yang notabene nya adalah handphone "mahal". Meledaknya smartphone di Indonesia pun dipengaruhi oleh meledaknya penggunaan handphone merek Blackberry. Dalam satu tahun ini saja misalnya, Blackberry sudah bisa membuat vendor besar seperti Nokia kalang kabut. Meledaknya smartphone di Indonesia, juga membawa transformasi besar di kehidupan bersosial di Indonesia.



Dahulu, orang bertanya "eh nomor handphone kamu berapa?". Sekarang orang bertanya "eh Pin kamu berapa?". Dahulu, orang tidak begitu memperhatikan darimana seseorang mengupdate status facebooknya. Namun, banyak orang yang ingin di status facebooknya tertera "via facebook for blackberry". Hal-hal ini terlihat sepele, namun tetap saja menarik untuk diamati dan dikaji. Dalam tulisan ini, saya memaknai handphone tidak hanya sebagai barang elektronik, tapi juga sebagai teks budaya yang mengandung makna kontekstual. Saya akan mengkategorikan handphone dan smartphone sebagai suatu teks budaya populer yang bisa dikaji secara mendalam.

Dalam blog ini saya pernah membahas suatu produk budaya yaitu "Jas" dalam tulisan yang berjudul "A Story of Suits VS T Shirt". Dalam tulisan ini saya menyatakan bahwa ketika kita mengkonsumsi suatu barang / produk budaya, kita juga ikut mengkonsumsi nilai - nilai kontekstual yang ada didalamnya. Berdasar argumen yang sama, maka apa yang akan kita dapat bila kita membeli handphone yang berkategori smartphone?

Smartphone dan Kelas Sosial

Sebagai suatu smartphone yang notabene nya masih handphone yang mahal, maka kesan pertama kali yang akan didapat ketika kita menggunakan handphone semacam Blackberry dan Android adalah bahwa kita akan dianggap sebagai "orang kaya" karena kita mampu membelinya. Makna kontekstual ini memang sangat sederhana, tapi sangat berarti di masyarakat Indonesia. Dengan memiliki handphone ini, kelas sosial kita seperti "terangkat". Bayangkan saja, bila pada hari ini saya hanya memakai Nokia seri non-smartphone dan esoknya saya mengupdate facebook saya melalui "facebook for blackberry", apa kesan yang akan anda dapat? Mungkin anda akan menganggap saya sebagai orang yang berada. Ketika teman anda tahu bahwa handphone anda berganti menjadi Blackberry, apa reaksi mereka? Mungkin kata-kata seperti "cie sekarang ganti BB". Ekspresi seperti ini menunjukkan adanya suatu kekaguman dan ketakjuban. Lihat saja, kata-katanya, "BB" bukan "HP" (padahal BB itu kan juga HP?). Memiliki sebuah Blackberry seperti menjadi suatu penanda bahwa anda berada di kelas sosial yang berbeda dengan orang kebanyakan.

Diambil dari ingintahu.blogdetik.com
Handphone yang berplatform Android sepertinya juga hampir diperlakukan sejajar dengan Blackberry. Ketika dalam perjalanan wisata keluarga saya beberapa minggu yang lalu, ada salah seorang sepupu yang berkata kepada sepupu saya yang lain, "mas pinjem Android nya dong?". Bisa kita lihat sekali lagi disini bahwa yang diacu adalah Android bukan handphone. Padahal, sama dengan BB tadi, Android juga HP. Sepertinya ketika kita memiliki handphone semacam ini, terjadi suatu perbedaan status diantara para pemilik handphone yaitu: mereka yang memiliki smartphone sebagai orang yang lebih "kaya" dan orang yang tidak memiliki smartphone sebagai orang "biasa saja".

Lalu apa maknanya bila ini dihubungkan dengan kondisi sosial Indonesia? Dalam hal ini saya memaknaninya bahwa masih banyak orang Indonesia yang ingin status sosialnya terangkat. Bayangkan saja, berapa banyak pekerja berpenghasilan rendah yang menyisihkan uang hanya untuk membeli Blackberry? Atau mereka yang pinjam Blackberry teman untuk mengupdate status facebook mereka. Sepertinya dengan memiliki Blackberry, seseorang dalam sesaat bisa merasakan menjadi orang "kaya". Ya memang, sebagai produk budaya populer, Blackberry pastilah menawarkan escapism atau pelarian dari kenyataan hidup yang susah. Kalau dengan membeli Blackberry bisa dianggap sebagai orang kaya, tentu saja banyak orang Indonesia yang mau membelinya karena ini meningkatkan prestige mereka di masyarakat.

Smartphone dan Eksklusifitas 


Handphone - handphone yang dikategorikan sebagai smartphone, biasanya memiliki fitur-fitur unggulan yang eksklusif. Blackberry misalnya, dikenal dengan Blackberry Messenger nya (BBM). Mereka mulai jarang berkomunikasi dengan layanan sms atau telepon. Mereka lebih mengandalkan layanan BBM diantara sesama pengguna Blackberry. Nah kalau begini apa yang terjadi? Dari sini muncullah ke-ekslusifitas-an para pengguna BB. Para pengguna BB semakin intens berkomunikasi satu sama lain, meninggalkan para pengguna non-BB. Para pengguna BB menjadi suatu kelas yang eksklusif yang tidak bisa dimasuki oleh para pengguna non-BB.

Meskipun ini terlalu berlebihan, namun saya berpendapat bahwa ada diskriminasi bagi para pengguna telepon seluler non-BB. Mereka yang tidak menggunakan Blackberry akan terasing diantara para pengguna nya. Bahkan, tidak jarang para pengguna BB berkomunikasi dengan orang yang duduk disampingnya melalui BBM mengabaikan orang yang tidak menggunakan BB yang ada disekitarnya.

Smartphone dan Gengsi


A : Sorry, aku lagi baca message mu di fb
B : Loh kok lagi dibaca?
A : Iya, sekarang males fb an karena handphone nya kaya gini (mengeluarkan hape nokia 300.000 an yang sebenarnya memiliki fitur browsing internet dan bisa untuk membuka facebook)
B. Oh ...

Begitulah kiranya ilustrasi pembicaraan A yang dahulu memiliki Blackberry dan B seorang yang tidak menggunakan blackberry (berdasarkan pembicaraan yang nyata). Hal yang menggelitik saya adalah kenapa si A jadi males main facebook dengan handphone 300.000 nya padahal sebelum ada Blackberry, si A rajin main facebook dengan handphone yang sama? Ya, mungkin, salah satu jawabannya adalah karena gengsi. Handphone 300.000 annya dianggap tidak "layak" pakai mungkin untuk hanya sekedar membuka facebook.

Ilustrasi diatas menggambarkan "gengsi" juga menjadi alasan utama meledaknya penggunaan smartphone di Indonesia. Seseorang akan merasa "ketinggalan" apabila teman-temannya sudah beralih menggunakan smartphone yang sedang populer saat ini. Mungkin, dia akan tidak berani mengeluarkan handphone nya ketika dia berada dengan teman-teman yang mayoritas menggunakan smartphone. Ini juga berhubungan dengan diskriminasi terhadap para pengguna handphone non-smartphone diatas. Dia akan merasa terdiskriminasi karena tidak menggunakan smartphone sendiri di lingkungan dia berada. Dia mungkin akan merasa minder ketika ditanya "eh PIN kamu berapa?". Hingga pada akhirnya, dia terpaksa membeli smart phone untuk memenuhi gengsinya. Yak, menurut saya, banyak juga orang yang membeli smartphone hanya untuk gengsi-gengsi an.

Mengapa Saya Tidak Jadi Beli Handphone Baru?


Diambil dari gsmarena.com
Saya memang tertarik dengan Blackberry ataupun Android. Namun saya sadar, kemampuan (terutama finansial saya) belum mencukupi kearah situ. Bukankah untuk Blackberry, selain pulsa bulanan masih ada biaya lain bulanan untuk mengaktifkan fitur-fitur nya? Saya sadar, dengan kemampuan ekonomi saya saat ini, saya belum bisa memenuhinya. Selain itu, keadaan belum "memaksa" saya untuk beralih ke ponsel ponsel pintar ini. Saya masih bisa bertahan dengan ponsel Nokia saya karena sejauh ini saya masih merasa nyaman. Ponsel ini saya rasa, masih bisa memenuhi kebutuhan saya untuk browsing, musik, wifi atau sekedar berkomunikasi dengan teman - teman melalui telefon dan sms. Keinginan saya untuk membeli handphone touchscreen akhirnya juga sudah sirna. Memang saya mengincar kesan mewah yang ditawarkan handphone semacam itu, namun ketika saya memakai handphone adik saya, saya tidak merasa nyaman. Apa gunanya membeli barang bila kita tidak merasa nyaman menggunakannya? Namun, saya tidak berjanji untuk tidak membeli smartphone ini suatu saat nanti. Saya tidak tahu, mungkin karena tuntuan pekerjaan? Padahal kerja saja belum hahaha ...

Lalu ....

APA SALAHNYA MEMBELI SMARTPHONE? APA SALAHNYA BELI BB ATAU ANDROID?


Mungkin, ada pembaca blog ini yang akan bertanya hal diatas =). Ya memang tidak salah toh itu keputusan pribadi. Namun yang saya cermati adalah banyak para pengguna smartphone itu sebenarnya tidak begitu membutuhkannya, atau malah sebenarnya secara finansial belum begitu sanggup untuk membiayai biaya ekstra untuk ponsel ponsel pintar ini. Bayangkan saja, mungkin biaya tambahan bulanan untuk mengaktifkan fitur BB sudah bisa untuk membeli bensin beberapa liter selama beberapa minggu! Yang saya sayangkan dari  fenomena meledaknya smartphone khususnya BlackBerry di Indonesia ini adalah karena banyak orang yang terperangkap pada penjara yang bernama gengsi! Mereka tidak melihat seberapa penting ponsel pintar ini dalam menunjang bisnis atau pekerjaan mereka. Mereka hanya ingin tampak lebih kaya, lebih eksklusif, lebih up to date, dan lebih bergengsi daripada orang yang tidak memakai smartphone. Bayangkan saja? Seberapa penting sih Blackberry untuk anak SMP? SMA? Mahasiswa? atau buruh pabrik? Sayang bila uang yang sebenarnya bisa digunakan untuk keperluan lain malah dipergunakan untuk keperluan tersier yang sebenarnya tidak begitu penting bagi mereka. Sangat ironis memang, Indonesia ini menjadi lahan yang subur bagi para kaum kapitalis. Mereka sangat senang dengan psikologi bangsa ini yang sudah sangat konsumtif.

Demikian opini saya atas meledaknya smartphone di Indonesia ini. Apa opinimu? Apakah pernah mengalami "diskriminasi" karena tidak menggunakan smartphone? Mari bagi pendapatmu disini =)


Comments

  1. kata Ibunda pemilik 'Padepokan Sari'. "Ya inilah yg disebut hyperreality". orang2 jadi tidak nyaman untuk ber'sosialisasi' dgn orang lain gara2 efek samping dari kemunculan sebuah produk budaya populer yg sedang naik daun. by the way, aku jadi memiliki pemikiran nyleneh lainya karena postinganmu ini masbro... HEHEHEHAHAHAHA -tawa antagonis-

    ReplyDelete
  2. @Daniel Nugroho apa nih pemikiran nyleneh nya?? posting di blog mu dong :D

    ReplyDelete
  3. suka dengan postingan ini. meski panjang tapi nyaman untuk dibaca. postingan dan tema seperti ini nih yng lagi aku cari.. hehehe

    betul Riz, meledaknya 2 smartphone itu sebagian besar karena gengsi dan ingin dianggap lebih. padahal untuk fitur, mungkin banyak dari mereka yg belum menggunakannya secara maksimal.
    kemarin saat keponakan ke Solo sewaktu lebaran, aku juga pernah nyoba BB keponakan. dan tidak ada 15 menit, aku sudah bosan menggunakannya. bagaimana tidak, gimnya standar, fiturnya juga kurang asyik, ditambah file manager yang bisa dikatakan kurang nyaman sekali. jadi jelas, para pengguna BB di Indonesia itu lebih cenderung membeli karena gengsi dan ingin dianggap wah. dan untuk Android, mungkin alasan mereka juga hampir sama. tp setidaknya, menurut pendapatku Android lebih bagus fitur2nya ketimbang BB. apalgi banyak aplikasi yang gratis juga.

    aku juga setuju dengan pendapatmu Riz. trkadang kita malah jadi merasa kurang nyaman saat orang2 di sekitar kita pake BB semua. apalagi mereka pake cuman buat gengsi2an. hehe

    ReplyDelete
  4. @Pondrafi sepertinya kita punya pengalaman sama saat lebaran hehehe ... Banyak sodara yang mungkin menurut saya belum saatnya menggunakan hape ini.

    Hmm, bayangkan aja, professor saya di amerika itu hapenya malah jadul. hahaha...

    sebenarnya ada lagi sih yang ingin saya sentil (walau sudah disentil oleh iklan nokia). Yaitu kedua smartphone diatas boros batere. Lah buat apa hape canggih dan bagus kalo tiap dibawa pergi mesti ngecharge berkali-kali :D

    sayang juga ketika BB dan Android ini hanya dijadikan sebagai "gengsi" dan "prestis" sementara tidak digunakan secara maksimal.

    #maafpostingankepanjangan hahaha ... ditulis dini hari sih pas ngga bisa tidur

    ReplyDelete
  5. hmmm.. lha emang dosen di Amerika pake apa nih HPnya??

    iklan Nokia?? aku malah belum tau e.. ada linknya gak Riz?

    betul. sayang banget masyarakat kita ini masih memandang kedua smartphoe itu sebagai 'gengsi' dan 'prestise'. kdang karena itu pulalah yg menjadikan masyrakat Indonesia ini konsumtif, selalu pengin tampil 'wah' dan 'wah', seperti yang kamu tulis di atas.

    ReplyDelete
  6. @Pondrafi apa ya, hapenya biasa biasa aja pokoknya :D bukan smartphone lah

    apa ya iklannya, Nokia seri E berapa gitu, ceritanya balapan make naik sofa.

    ReplyDelete
  7. iya nih, Lebaran bikin ilfil...wkkkk...gpp juga sih punya gadget begituan tapi emang konsekuensi sosial ny besar sih, eksklusifisme sadar atau g sadar akan tetap ada.

    klo aq mending android deh drpd BB. BB yg asik apany sih?cm gengsinya aja kyny..hhhhh...mngkn beberp orang, BB penting krn emang ada bisnis stuff gtu ya, tapi emang ujung2ny juga eksklusip.yg bikin bete itu ya klo dtanyain pin,so what klo no hp aja gtu deh...

    nice post...:)

    ReplyDelete
  8. Wah pitri is back :D

    pokoknya intinya, selama saya belum butuh banget saya ga akan ganti hape jika hanya untuk memenuhi gengsi dan tuntutan untuk trendi. saya ingin belajar sedikit seperti Bu Sari yang mencoba lepas dari belenggu pop culture :D

    ReplyDelete
  9. setuju gan..
    beginilah indonesia tercinta, selalu bangga dengan budaya latah... apa yg lg trend di media ditiru.. padahal belum tentu itu sesuai dgn kebutuhan mereka. i bet BB jd trend mesti gara" sinetron yg artisnya suka nunjuk"in BB dan iklan di tivi yg...
    trus android jg. anak" muda di negara kita akhir" ini kan srg bgt hunting "what's the next hipping stuff" biar dibilang gaul, melek teknologi dan gak ketinggalan jaman -_-"
    mgkn gara" itu jg android ikuta"an populer stlh BB dan iOS, bener yg km tulis, biaya per bulan nya masih mahal...
    ak pernah baca trit di kaskus kalo org Inggris saja kaget bgt pas liat ad ABG indonesia pake BB coz di sana BB katanya cuma buat pebisnis dan orang" tua yg sibuk..

    ReplyDelete
  10. mgkin dari smua sy yang palg tidak faham akan tipe hp ap lg smartphone blas g faham kang

    ReplyDelete
  11. @rena herald benar ... budaya latah hahaha ... yang ada latah lagian cuma di sini -_-"

    @katils thx atas visitnya =)

    ReplyDelete
  12. sayangnya, Indonesia itu latahnya kagak mutu.. hehe

    ReplyDelete
  13. Komentar ngga yaa? Hmm..


    Nice posting and great ideas..

    Tp krn aku pake bb,trutama pas posting comment n baca tulisan mas qq saat aku sedang di bis n berusahha membunuh bosan aku jadi ngraasa beruntung yya punya BB..
    Anyway, tentu ada fakktor lain, yg memicu orang buat pake BB. ngga melulu krna ggengsii kan??..:)

    -sartikadian

    ReplyDelete
  14. Yah kalo dibaca mpe bawah kan saya jg bilang emang ngga melulu gengsi :P

    Terserah aja orang mau beli BB ap kaga hha

    Yang saya sayangkan adalah ketika yang beli BB tu sebenarnya ga begitu butuh dan "belum saatnya" membelinya. Mereka hanya beli BB hanya biar tampak gaul :) kan banyak tuh yg kaya gitu??? :)

    Thx for commenting

    ReplyDelete
  15. nice story mas bro :)
    sekarang udah ga jaman pake BB lagi :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

The Two Most Influential Postmodernist Thinkers

This second post about postmodernism will consist of two greatest postmodernist thinkers and their contribution to postmodernism.
1. Jean Fran├žois Lyotard.
Lyotard is a French philosopher. He opened the discussion for postmodernism in social theory with his groundbreaking publication ‘La Condition Postmoderne’ (The Condition Postmodern). His works stress the decline of meta-narratives or grand-narratives, as some scholars refer it. Meta-Narratives as defined in the previous post are sets of ideas governing what is right and wrong. For example, religion defines how to live a good life. By doing so, people who do not appeal to the characteristics of good man as defined by religion will be considered unfaithful, as bad people. Lyotard argues that this way of legitimating declines in a postmodern society. What is considered good can no longer be clearly separated from what is considered bad.

The decline of meta-narratives was triggered by communication development. Traditional communicatio…

Movie Review | Stream of Tears in Wedding Dress

Last Saturday, I got a runny nose -kind of severe, as I recalled- not because of sick, but because I watched a Korean movie entitled WeddingDress.
I have frequently watched Korean movies. In my opinion, they are much better than Indonesian movies. Not that I dislike my country (I just dislike Indonesia’s movies), but yeah, Korean movies have a wide range of preference. You can watch cheesy-funny-romantic movie that make you feel happy and smile all the time. Or try to watch a horror-romanticmovie that makes you laugh and scared. You can also find cool action movie! Some movies even make me cry a lot. I really mean it when I say some Korean movies really make me cry so badly. Wedding Dress is one that makes me cry. I am a boy and I cry. So what? I don’t buy the ubiquitous saying ‘Boys don’t cry’.

Wedding Dress narrates the life of a single mother, Go-eun, played by Song Yun Ah. Her husband dies already, leaving her only with her young daughter, So-ra, nicely played by Kim Hyang-gi. …

Gender Issues in Japanese Anime and Manga

I've got this idea to write about Japan's popular culture for  some times. Firstly, I love Japan's popular culture such as anime and manga.Japan's anime and manga are so popular around the world, transcending nations, age, sex and gender. I read Japan's  manga from the age of 10 (may be), until now. I watched Japan's anime also for years.

One thing that really makes me wonder is about the depiction of gender in those popular culture product. Before furthering the discussion, it is important to say that i follow Ann Oakley's argumentation to differ sex and gender. Sex is naturally determined, while gender is socioculturally constructed. Thus, to speak of male and female is to speak of sex. While to speak of masculine and feminine is to speak of gender. In doing gender (attributing gender characteristics in body), people are for so long stereotyped by the existing binary relation. It means that male should develop masculine traits to be called as a real man.…