Skip to main content

Posts

Showing posts from May, 2013

Naik Motor di Jalanan Ibu Kota itu rasanya

Tak terasa, hampir satu tahun saya mengendarai motor di Jakarta. Pada awalnya, saya bersikukuh tidak mau mengendarai motor di kota ini. Bagaimana tidak? Pada beberapa bulan pertama di kota ini, saya menyaksikan bahwa pengendara motor di kota ini gila. Rambu-rambu dan peraturan lalu lintas yang ada seakan tidak bisa mengatur mereka. Namun pada akhirnya saya menyerah karena saya ternyata membutuhkan sebuah sepeda motor.
Pekerjaan saya yang lama menuntut mobilitas yang tinggi dan saya tidak bisa bergantung pada transportasi umum yang ada. Bus Transjakarta yang telah mengantar saya selama 6 bulan pertama di Jakarta semakin tidak bisa diandalakan. Waktu tunggu yang lama, penumpang yang melebihi batas dan jumlah armada, yang menurut hemat saya, masih terbatas membuat saya menyerah untuk bergantung pada Transjakarta. Mulai di pertengahan tahun lalu, saya menjadi seorang pengendara motor.
Naik motor di Jakarta itu membuat stress. Begitulah kesan pertama saya ketika pertama kali mengendarai …

Does SBY really deserve to get the 2013 World Statesman Award? I don’t think so

In other countries, citizens would be pleased and honored if their leaders or president s received an international award to recognize their efforts in promoting peace and tolerance among people of different religions and faiths.
But, that is likely to happen in Indonesia.
For the last couple of weeks, rights activists throughout the archipelago have been expressing their frustrations of news about President Susilo Bambang Yudhoyono, who will receive the World Statesman Award from the Appeal of Conscience Foundation in the end of May.
The foundation, established by Rabbi Arthur Schneier  in 1965, is the place where leaders of all faiths gather to promote peace, tolerance and ethnic conflict resolution. It annually recognizes world leaders who, according to the foundation, have promoted peace, tolerance and conflict resolution.  Past awardees include former French President Nikolas Sarkozy, former British Prime Minister Gordon Brown and also the late Margaret Thatcher, and a dozen of o…

Celebrity, election and politics in Indonesia

The political tension in the country is heating up ahead of the 2014 general elections. The General Elections Commission (KPU) has recently announced a list of legislative candidates that have been registered by the 13 political parties competing in the election next year.
According to a report by The Jakarta Post, the Prosperous Justice Party (PKS) is the only political party that does not have celebrity figures in its list. The report says that there are 44 celebrities registered in the list of 12 other political parties.
There is actually nothing wrong with celebrities trying their lucks in politics. They, as much as you and I, have constitutional rights to join the political race in this country. But, wait … is there really really nothing wrong with that?  
I lied. Do I really want to be led by celebrities? Do I want celebrities to sit in the parliament to determine the state’s budget? Do I trust them to make laws? The answers for all of the questions are definitely ‘No’.
Let u…

Solo, selepas Jokowi pergi

Akhirnya hari ini, saya menyempatkan waktu untuk kembali ke kampong halaman tercinta dan kota kelahiran saya, Surakarta atau yang lebih dikenal sebagai Solo. Meskipun kepulangan saya kali ini terhitung sangat kilat, cuma dua hari satu malam, saya masih sangat senang karena bisa mengobati rasa rindu saya akan suasana kota kecil ini.
Solo terkenal sebagai pusat budaya jawa. Di kota ini terdapat pecahan kerajaan Mataram kuno yaitu Kesultanan Kasunanan. Selain sebagai pusat budaya jawa, Solo juga dikenal dunia internasional sebagai kota sarang teroris. Beberapa teroris kenamaan di Indonesia diketahui pernah mengenyam pendidikan di salah satu pondok pesantren yang padahal secara administratif tidak terletak di kota Solo. Ya, sayang sekali kota kecilku dikenal secara negatif.
Namun, ada satu hal yang membanggakan dari tanah kelahiran saya ini. Beberapa tahun terakhir, Solo bisa mendapatkan citra positif di mata dunia internasional atas kerja keras mantan walikota, Joko Widodo atau yang le…