Skip to main content

Tertib Lalu Lintas dan FTV


Sumber: arifnurahman.com
Sama seperti siang hari kemarin, hari ini saya masih berstatus “jobseeker” istilah keren untuk pengangguran. Kalau semua berjalan lancar, semoga bulan depan saya sudah tidak berstatus demikian, Amiiiin. Untuk mengisi waktu luang, saya pun menghidupkan televisi mencoba melihat apakah ada acara yang menarik. Karena sudah lewat jam 1, saya rasa sudah tidak ada acara yang menarik. Saya kelewatan acara favorit yang mampu menghubur saya yaitu Awas Ada Sule J (ini bukan iklan). Selepas jam 1, yang ada di saluran televisi Indonesia adalah FTV, talkshow, berita, FTV, lalu FTV yang lain  dan film pendek yang lain. Tidak banyak pilihan memang bila kita tidak memakai jasa televisi berlangganan. Akhirnya saya memutuskan menonton beberapa FTV. Ya, beberapa, karena saya selalu pindah-pindah saluran televisi. Semakin saya tonton beberapa FTV ini, banyak hal – hal kecil yang menarik untuk dikomentari. Namun dipostingan kali ini saya hanya akan mengamati khusus tentang budaya tertib lalu lintas Indonesia.

Dari beberapa FTV yang saya tonton, saya melihat pengemudi mobil yang sibuk menggunakan handphone, pengemudi motor dan penumpang yang berkeliling kota tanpa memakai helm, balapan liar di jalanan sepi dan banyak hal lain. Ketika saya melihatnya, saya berfikir “mirip kenyataan”.

Kebetulan, hari ini saya berkesempatan berkeliling Jakarta. Saya menyaksikan padatnya lalu-lintas ibu kota Republik Indonesia ini. Yang paling menarik perhatian adalah saya melihat banyak sekali pengendara motor yang lewat jalan-jalan besar yang tidak memakai helm. Saya berfikir "apa mereka tidak takut ditangkap polisi?". Ya memang, di Indonesia alasan utama orang mengenakan helm adalah karena polisi, bukan khawatir akan keselamatannya. Saya pun bertanya kepada Om Nunu' yang mengantarkan saya, "Om kok di Jakarta banyak yang ga make helm ya?" Ternyata dia menjawab bahwa hal itu sudah biasa di Jakarta. Mau itu di jalan besar atau kecil, masih banyak para pengendara motor yang tidak mengenakan helm. Ketika saya melihatnya, saya tiba-tiba saja teringat FTV - FTV yang pernah saya lihat. "Oh, ternyata memang seperti ini ya realitas berlalu-lintas di Jakarta?"


Ternyata terbukti, bahawa FTV sebagai produk budaya populer "mencerminkan" kehidupan nyata yang ada di luar sana. Kalau tidak “mencerminkan” bagaimana mungkin FTV itu nanti akan populer? Bagaimana mungkin FTV itu akan banyak yang lihat? Banyak orang yang termakan FTV ini. Ingin tampil cantik, kaya dan menarik seperti bintang-bintang FTV. FTV menjadi role model bagi kebanyakan penduduk Indonesia. Tanpa disadari, FTV memiliki kekuatan untuk mempengaruhi penduduk Indonesia, jauh melebihi kekuatan pemerintah.

Lalu, mengapa tidak memproduksi FTV yang lebih "melek" tata tertib berlalu lintas? Coba saja bikin suatu FTV yang menceritakan anak muda yang tidak memakai helm terus mengalami kecelakaan dan mengalami luka parah? Atau yang paling gampang, mengapa para produser dan pembuat FTV ini tidak menyuruh para bintang FTV ini menaati peraturan lalu lintas yang ada? Siapa tahu, bila tertib berlalu lintas menjadi "budaya" yang coba di populerkan FTV, suatu saat nanti Indonesia akan memiliki budaya tertib lalu lintas di kenyataan.

source: Culturemap.com
Bandingkan saja misalnya dengan acara Oprah Winfrey Show. Dalam beberapa season terakhirnya, Oprah berkampanye untuk membuat suatu gerakan sosial "Tidak Menggunakan Ponsel Ketika Menyetir di Jalan Raya". Dia berkampanye dengan mengajak para artis dan pesohor yang datang ke acaranya untuk menandatangani surat perjanjian yang menyatakan bahwa dia tidak akan pernah menggunakan ponsel ketika menyetir mobil kecuali menggunakan handsfree. Dia melakukannya karena merasa prihatin dengan naiknya angka kecelakaan yang diakibatkan karena penggunaan ponsel ketika mengemudi mobil. Meskipun Oprah Winfrey Show ditayangkan di televisi nasional yang gratis, tidak berbayar, namun Oprah sebagai "mastermind" acara ini bisa membuat acaranya  menjadi acara yang berkualitas yang bisa mengubah masyarakat Amerika.

Indonesia memiliki segala potensi yang ada. "Celebrity culture" di Indonesia sangat kuat. Masyarakat Indonesia lebih "percaya" terhadap para selebritis daripada mereka yang duduk di pemerintahan. Jadi kenapa kita tidak mencoba meniru hal yang dilakukan Oprah?


Comments

  1. iya betul di Jakarta jarang yg pake helm. dulu aku pas ke Jakarta juga tanya ma Om yg tinggal di sana. dan jawabannya pun sama. 'di Jakarta sudah biasa'.. hehe

    kembali ke pokok masalah..
    sayang sekali Indonesia itu lebih suka menampilkan hal2 yg berbau konsumerisme di acara2 TV. makanya jadilah budaya Indonesia budaya konsumtif..

    ReplyDelete
  2. perilaku konsumtif emang udah susaaaah dibabat dari bumi pertiwi ini. Moga aja akan ada produser TV yang bener, seenggaknya kaya Oprah lah, ga cuma ngejar rating dan keuntungan tapi juga perbaikan masyarakat

    ReplyDelete
  3. oh bener to yg soal helm itu...

    klo disini artisny sp ya yg kr2 pny pengauh besar ky oprah?

    ReplyDelete
  4. Bener pit! Padahal jalanan di sana ngeri :(

    wah siapa ya? Sebenarnya selebritis di Indonesia tuh semuanya punya appeal yang besar loh. Buktinya banyak yg sukses kepilih di DPR dan Pilkada walau disangsikan kemampuannya. Ini kan menunjukkan bahwa sebenarnya mereka lebih "dipercaya" masyarakat.

    ReplyDelete
  5. menurut pandangan saya sbg warga dki jakarta, banyak sebenarnya warga yang sudah menaati peraturan, terutama warga asli jakarta atau setidaknya puluhan tahun tinggal di ibukota.
    sekarang anda sudah tinggal di jakarta, apakah anda mengamati perbedaan perilaku antara warga dg pendatang? maaf, saya tidak memojokkan warga pendatang. di sinilah, saya menyarankan anda untuk mengamati dengan berbagai sudut pandang.

    membahas tentang ftv, saya melihatnya karena memang masyarakat indonesia lebih menyukai produk film dengan budaya hedonisme dan vandalisme. coba dicermati, film yang menyajikan kemewahan, wanita, maupun horor lebih banyak rating. bandingkan dengan film-film yang mencakup sosial dan budaya. ada berbagai pihak production house yang sudah menyodorkan tayangan edukatif. namun, pihak stasiun tv lebih milih 'rating' dibandingkan dengan kualitas. kembali kepada individu sih sebenarnya. :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. setelah saya amati, dijalan hampir semua motor ber plat B suka menerobos lampu lalu lintas. pernah saya mencoba untuk berhenti dibelakang garis putih, tapi malah diteriakin para pengendara ber plat B dibelakang saya agar maju dan menerobos saya.

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

The Two Most Influential Postmodernist Thinkers

This second post about postmodernism will consist of two greatest postmodernist thinkers and their contribution to postmodernism.
1. Jean Fran├žois Lyotard.
Lyotard is a French philosopher. He opened the discussion for postmodernism in social theory with his groundbreaking publication ‘La Condition Postmoderne’ (The Condition Postmodern). His works stress the decline of meta-narratives or grand-narratives, as some scholars refer it. Meta-Narratives as defined in the previous post are sets of ideas governing what is right and wrong. For example, religion defines how to live a good life. By doing so, people who do not appeal to the characteristics of good man as defined by religion will be considered unfaithful, as bad people. Lyotard argues that this way of legitimating declines in a postmodern society. What is considered good can no longer be clearly separated from what is considered bad.

The decline of meta-narratives was triggered by communication development. Traditional communicatio…

Movie Review | Stream of Tears in Wedding Dress

Last Saturday, I got a runny nose -kind of severe, as I recalled- not because of sick, but because I watched a Korean movie entitled WeddingDress.
I have frequently watched Korean movies. In my opinion, they are much better than Indonesian movies. Not that I dislike my country (I just dislike Indonesia’s movies), but yeah, Korean movies have a wide range of preference. You can watch cheesy-funny-romantic movie that make you feel happy and smile all the time. Or try to watch a horror-romanticmovie that makes you laugh and scared. You can also find cool action movie! Some movies even make me cry a lot. I really mean it when I say some Korean movies really make me cry so badly. Wedding Dress is one that makes me cry. I am a boy and I cry. So what? I don’t buy the ubiquitous saying ‘Boys don’t cry’.

Wedding Dress narrates the life of a single mother, Go-eun, played by Song Yun Ah. Her husband dies already, leaving her only with her young daughter, So-ra, nicely played by Kim Hyang-gi. …

Gender Issues in Japanese Anime and Manga

I've got this idea to write about Japan's popular culture for  some times. Firstly, I love Japan's popular culture such as anime and manga.Japan's anime and manga are so popular around the world, transcending nations, age, sex and gender. I read Japan's  manga from the age of 10 (may be), until now. I watched Japan's anime also for years.

One thing that really makes me wonder is about the depiction of gender in those popular culture product. Before furthering the discussion, it is important to say that i follow Ann Oakley's argumentation to differ sex and gender. Sex is naturally determined, while gender is socioculturally constructed. Thus, to speak of male and female is to speak of sex. While to speak of masculine and feminine is to speak of gender. In doing gender (attributing gender characteristics in body), people are for so long stereotyped by the existing binary relation. It means that male should develop masculine traits to be called as a real man.…