Hmm ... I am informing you (as if i have any follower in this, LOL) that I move in riskysays.wordpress.com. Well, it's just that I need fresher environment (silly excuse = D ) Find me there guys !
Sore ini twitter timeline saya kebanjiran tweets adek tingkat yang sedang mengikuti seminar mainstream. Di Jurusan Sastra Inggris saya memang pada semester akhir akan dibagi menjadi 4 bidang minat: Sastra, Linguistik, Kajian Amerika dan Penerjemahan. Setiap bidang memiliki keunggulan dan kekurangan masing masing. Mungkin demi alasan itu seminar ini diselenggarakan oleh EDCOM. Namun, berbagai reaksi yang muncul di twitter, sangat menarik diamati. Ada yang semula tertarik pada mainstream A, terus tertarik mainstream B. Ada yang semakin mantab dan yakin untuk memilih mainstream yang dari dulu telah disenangi. Ada yang bingung memiilih yang mana karena
It's been quite sometimes that i had this idea struck in my head, but i had no idea where to share my idea. But, i remember that i once created a blog long time ago and i forgot the password. After trying to recover my password, i finally am able to access it again. Well, that's a bad introduction right? Upin dan Ipin [1] Within the last 6 - 5 months, Indonesian people have new idolized TV program. It is Upin dan Ipin , aired on TPI everyday at 15.00. The interesting point is that this program is actually a product of Malaysia. For information, Indonesia - Malaysia relationship was not pretty good last year due to some cultural problems. Yet, this program is widely accepted in Indonesian society. I am then interested in analyzing the reasons why it is successful. Upin dan Ipin tells about the life of twin brothers (Upin and Ipin). They are may be around 6 - 7 years old. The show tells about their daily activities such as in school, home, and market. They play and stud...
Masjid dan Gereja yang berdiri berdampingan di Solo Di antara kedua bangunan ini ada tugu berbentuk lilin tapi berwarna hijau yang merupakan gabungan simbol agama Protestan (lilin) dan Islam (warna hijau). Bangunan ini dimaknai sebagai simbol kedamaian dan toleransi antar kedua umat beragama ini. Pluralisme, di Indonesia kata ini terdengar begitu mengerikan bagi orang orang yang paham akan implikasi apa yang terkandung di baliknya. Saya, pada awalnya tidak begitu memperhatikan benar kata ini. Pun demikian ketika saya mendaftar untuk beasiswa dari US Department of State yang bernama Study in United States Institute (SUSI) for Student Leaders on Religious Pluralism . Pada awalnya saya beranggapan bahwa pluralisme hanyalah adanya keberagaman, lebih dari satu jenis. Saya pada saat itu termasuk orang awam yang tidak tahu implikasi apapun yang ada di baliknya. Ketika saya mendapat telepon dari Kedubes Amerika yang mengabarkan saya diterima dalam beasiswa tersebut, saya pun merasa senan...
Comments
Post a Comment