Skip to main content

Meredefenisikan Pluralisme

Masjid dan Gereja yang berdiri berdampingan di Solo
Di antara kedua bangunan ini ada tugu berbentuk lilin tapi
berwarna hijau yang merupakan gabungan simbol
agama Protestan (lilin) dan Islam (warna hijau).
Bangunan ini dimaknai sebagai simbol kedamaian
dan toleransi antar kedua umat beragama ini.
Pluralisme, di Indonesia kata ini terdengar begitu mengerikan bagi orang orang yang paham akan implikasi apa yang terkandung di baliknya. Saya, pada awalnya tidak begitu memperhatikan benar kata ini. Pun demikian ketika saya mendaftar untuk beasiswa dari US Department of State yang bernama Study in United States Institute (SUSI) for Student Leaders on Religious Pluralism. Pada awalnya saya beranggapan bahwa pluralisme hanyalah adanya keberagaman, lebih dari satu jenis. Saya pada saat itu termasuk orang awam yang tidak tahu implikasi apapun yang ada di baliknya. Ketika saya mendapat telepon dari Kedubes Amerika yang mengabarkan saya diterima dalam beasiswa tersebut, saya pun merasa senang dan bersyukur. Sebelum berangkat, saya pun mulai membekali diri saya dengan semua hal yang berbau ‘pluralisme’.

Ketika saya mulai mecoba mencari beberapa referensi akan pluralisme agama, saya pun pada akhirnya tahu akan adanya fatwa haram MUI (2005) akan hal tersebut. Saya membaca definisi pluralisme agama seperti yang didefinisikan MUI. Dalam fatwa tersebut, pluralisme diartikan sebagai faham yang menyamaratakan semua agama.  MUI menjelaskan bahwa pluralisme agama mengarah pada sinkretisme dengan menganggap semua agama itu sama dan benar. Saya pun langsung sadar dan terkejut akan sejauh mana saya terlibat pada hal ini. Saya berfikir apakah yang akan saya pelajari ini adalah sesuatu yang haram. Namun, saya justru tertarik lebih lanjut untuk menelisik masalah ini. Dari browsing di internet saya mendapati bahwa pendukung utama pluralisme seperti yang diutarakan oleh MUI tersebut adalah kaum liberal Islam. Dari situ, saya mendapati banyak sekali perdebatan akan pluralisme dalam Islam, pro dan kontra. Saya memposisikan diri saya sebagai pelajar, yang mengamati fenomena ini. Saya membaca baik argumen yang pro dan kontra dalam perdebatan ini dan berharap bisa memahami keduabelah pihak.


Waktunya pun tiba dimana saya harus berangkat ke Amerika Serikat untuk belajar mengenai pluralisme agama. Sesampai disana, saya pun mulai mengikuti semua materi dan kegiatan lain. Materi yang disampaikan, diawali dengan pemahaman akan konteks demokrasi Amerika dengan pembahasan pada sejarah Amerika, undang undang dasar dan sistem pemerintahan Amerika yang sekular. Lalu pada minggu selanjutnya, materi mulai menginjak pada pengenalan berbagai agama yang ada di masyarakat Amerika, mulai dari Protestan, Katolik, Yahudi, Islam, Bahai dan Buddha (masih banyak agama lain yang ada di masyarakat Amerika). Pada minggu yang lain, materi mengarah pada implikasi apa yang timbul dari keberagaman ini, dan implikasi yang paling sering muncul adalah adanya kekerasan dan konlfik. Konlfik adalah reaksi spontan pertama bila beberapa hal yang berbeda diletakkan dalam satu tempat. Dan pada akhirnya, materi beralih pada bagaimana memecahkan konlfik ini dengan pendekatan yang berupa dialog antar agama. Disamping materi di kelas, saya dan grup SUSI RPA 2011 juga diajak pada kunjugan ke tempat –tempat ibadah seperti masjid, gereja, sinagog dan kuil. Kami hadir saat tiap tempat ibadah ini melakukan ritual keagamaan mereka. Kami hadir didalamnya dan bertindak sebagai observer.

Tiap pertemuan, saya selalu memikirkan, bagaian mana dari materi ini yang mengarah pada menyamakan semua agama? Dan pada kenyataannya saya tidak bisa menemukannya. Pada akhirnya, saya sendiri pun berfikir bahwa apa yang saya takutkan sebelum saya berangkat tidak terbukti. Pluralisme agama yang saya pelajari di Amerika Serikat bukanlah mengarah pada sinkretisme seperti yang ditakutkan MUI.

Pluralisme agama yang saya pelajari adalah langkah lanjut dari toleransi. Toleransi adalah keadaan dimana warga masyarakat sadar bahwa mereka terdiri dari golongan yang plural, golongan yang majemuk. Dalam toleransi, kita menghargai keberadaan the ’Other’ . Pluralisme yang saya pelajari adalah langkah lanjut dari menghargai keberagamaan itu, yaitu adanya suatu interaksi dan kooperasi antar golongan masyarakat yang majemuk ini demi tercapainya masyarakat luas untuk hidup lebih baik. Satu hal yang penting dalam pluralisme ini yaitu tiap golongan masih mempertahankan identitas golongannya masing masing.

Dalam definisi ini, mungkin secara teoritis saya bisa mengatakan bahwa pluralisme itu pada dasarnya adalah istilah sosiologi yang mengarah pada adanya hubungan kerja sama antar umat beragama dalam kehidupan bersosial. Dan pluralisme ini bukanlah istilah teologi yang mengarah pada faham untuk menyamakan semua agama. Dengan demikian, saya bisa saja menjadi seorang Muslim yang sangat taat pada ajaran agama Islam. Tapi dengan menjadi Muslim yang taat tersebut, saya tidak menutup diri saya untuk berteman, berinteraksi dengan orang yang berbeda keyakinan dari saya. Dan hubungan ini adalah hubungan yang berdasar pada rasa saling menghargai. Sebagai muslim, saya menghargai apa yang orang lain (the Other) yakini sebagai benar, karena saya juga punya keyakinan akan apa yang benar. Dan kita sebagai manusia tidak perlu saling memaksakan kebenaran yang kita yakini terhadap orang lain yang telah memilih apa yang mereka anggap benar bagi diri mereka. Hubungan antar umat beragama yang didasari pada rasa menghargai, saling menghormati dan saling memahami inilah definisi pluralisme menurut saya.

Comments

  1. Absolutely right!

    ReplyDelete
  2. akhirnya blog darimu Riz.. lansung aku follow dan masukan di list blogku. hhe

    wah tentang pluralism ya..
    kalo diseminarkan lebih asyik lho Riz..
    kan biar lebih banya yang mendengar.. hhe

    ReplyDelete
  3. I plan to do the seminar :D im still bargaining with EDCOM loh... u should join me in persuading them hahah

    ReplyDelete
  4. oke deh Riz.. jujur aku sangat tertarik dengan diskusi tentang masalah agama, apalagi menghargai agama orang lain.. makanya pas kemarin ada diskusi sperti ini di ILC, ak langsung berpikir. nih harusnya didengar oleh banyak orang, gak cuman sedikit orang seperti ini.

    jujur pemikiran akan pluralisme seperti itu sejalan dengan pemikiranku. bahkan dulu sekali seseorang pernah memperingatkanku aku, ati2 lho Pon, ntar kamu malah bisa pindah agama. itu karena pemikiranku yg seperti itu.. tp aku berpikir, asalkan kita yakin dengan keimanan kita, itu tak jadi masalah. Alhamdulillah skrg diriku msh menjadi seorang Muslim. dan masih tetap mencoba menjadi Muslim yang lebih baik drpada tahun2 sebelumnya...

    wah malah jadi curhat... wkwkwk

    oke deh Riz. aku dukung agar EDCOM mengadakan seminar sperti ini.. :-)

    ReplyDelete
  5. hmm that is so right, when we dwell in this issue, there will be many temptations. That is why yesterday, I said that the challenge of pluralism is how u can maintain ur own identity, and not collapsing into other's identity, i should lend u a book about it :)

    ReplyDelete
  6. book bout that issue.. that sounds interesting.. :-)ok, i'll lend that book. thanks before Riz..

    ReplyDelete
  7. Kapan ya? next Tuesday when we have another discussion, i'll bring it :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

The Two Most Influential Postmodernist Thinkers

This second post about postmodernism will consist of two greatest postmodernist thinkers and their contribution to postmodernism.
1. Jean Fran├žois Lyotard.
Lyotard is a French philosopher. He opened the discussion for postmodernism in social theory with his groundbreaking publication ‘La Condition Postmoderne’ (The Condition Postmodern). His works stress the decline of meta-narratives or grand-narratives, as some scholars refer it. Meta-Narratives as defined in the previous post are sets of ideas governing what is right and wrong. For example, religion defines how to live a good life. By doing so, people who do not appeal to the characteristics of good man as defined by religion will be considered unfaithful, as bad people. Lyotard argues that this way of legitimating declines in a postmodern society. What is considered good can no longer be clearly separated from what is considered bad.

The decline of meta-narratives was triggered by communication development. Traditional communicatio…

Movie Review | Stream of Tears in Wedding Dress

Last Saturday, I got a runny nose -kind of severe, as I recalled- not because of sick, but because I watched a Korean movie entitled WeddingDress.
I have frequently watched Korean movies. In my opinion, they are much better than Indonesian movies. Not that I dislike my country (I just dislike Indonesia’s movies), but yeah, Korean movies have a wide range of preference. You can watch cheesy-funny-romantic movie that make you feel happy and smile all the time. Or try to watch a horror-romanticmovie that makes you laugh and scared. You can also find cool action movie! Some movies even make me cry a lot. I really mean it when I say some Korean movies really make me cry so badly. Wedding Dress is one that makes me cry. I am a boy and I cry. So what? I don’t buy the ubiquitous saying ‘Boys don’t cry’.

Wedding Dress narrates the life of a single mother, Go-eun, played by Song Yun Ah. Her husband dies already, leaving her only with her young daughter, So-ra, nicely played by Kim Hyang-gi. …

Gender Issues in Japanese Anime and Manga

I've got this idea to write about Japan's popular culture for  some times. Firstly, I love Japan's popular culture such as anime and manga.Japan's anime and manga are so popular around the world, transcending nations, age, sex and gender. I read Japan's  manga from the age of 10 (may be), until now. I watched Japan's anime also for years.

One thing that really makes me wonder is about the depiction of gender in those popular culture product. Before furthering the discussion, it is important to say that i follow Ann Oakley's argumentation to differ sex and gender. Sex is naturally determined, while gender is socioculturally constructed. Thus, to speak of male and female is to speak of sex. While to speak of masculine and feminine is to speak of gender. In doing gender (attributing gender characteristics in body), people are for so long stereotyped by the existing binary relation. It means that male should develop masculine traits to be called as a real man.…