Skip to main content

Skripsi .. Thesis .. or Whatsoever You May Call This !!

Mari menulis sesuatu yang bersifat curhat dan sampah (edited based on the suggestion by rizalfikry) sekali - kali hahah ... Setelah tiga jam duduk dan mengetik di depan layar komputer saya pun menyerah. Saya memasang status di twitter:
Sudah buntu ... tak ad ilham... drpd nggambleh nulis ngga ceto sudhi saja tuk malam ini besok lagi hhh :D #alonalonwatonkelakon
Yah, proses menulis skripsi adalah proses terakhir untuk lulus dari bangku kuliah perguruan tinggi tingkat Sarjana di Indonesia. Yah, Indonesia memang berbeda dengan katakanlah Amerika (ya iyalah -__-" hahaha). Di sana, mahasiswa yang mengambil tingkat bachelor atau sarjana tidak diharuskan menulis skripsi. Yang menulis skripsi adalah siswa yang mengambil program honors. Setidaknya itu yang dikatakan pembimbing skripsi saya dan pada akhirnya saya ketahui juga setelah tanya beberapa teman Amerika ketika berada disana.


Menulis skripsi, sebenarnya apa sih yang menyebabkan banyak mahasiswa lama dalam proses ini? Banyak mahasiswa brilian yang malah tertahan di proses ini. Beberapa hambatan mungkin berawal dari dalam si penulis sendiri. Berikut ini hambatan dari dalam DIRI saya sendiri, dalam urutan yang paling berpengaruh:

1) RASA MALAS !!!
Ini hambatan utama dalam penulisan skripsi. Sering kali, saya dalam sehari hanya menulis beberapa halaman, paragraf bahkan tidak  menulis sedikitpun hanya karena rasa malas dan bosan duduk berlama - lama di depan komputer. Mungkin, bagi pembaca yang belum mulai menulis skripsi, belum bisa memahami bagaimana mungkin rasa ini  muncul. Well, you will know when your time comes.

2) KESIBUKAN LAIN atau MENGADA-ADAKAN KESIBUKAN
Hambatan kedua datang dari kesibukan kita. Pernah dalam dua bulan saya tidak menulis selembar pun!!! Satu bulan karena banyak event international dimana saya bekerja di dalamnya, satu bulan karena dapat beasiswa, mungkin beberapa minggu sesudahnya saya merasa capek dan butuh istirahat. Bayangkan berapa banyak waktu yang terbuang, dalam menulis ini pun saya menyadari betapa banyaknya waktu yang saya sia sia kan. Dan yang cukup sering saya lakukan adalah mengada-adakan kesibukan. Maksudnya apa? Misal... saya sudah stand by duduk, lalu saya melihat meja saya berantakan, kasur, lantai dan kamar sangat kotor. Sebenarnya saya bisa bersih - bersih keesokan harinya tapi malah membersihkannya dan menunda menulis. Hahaha -____-"

3) TAK ADA ILHAM
Tak ada inspirasi untuk menulis. Kalau sedang tak ada inspirasi biar sudah duduk 4 jam juga tak bakal mulai menulis sekata pun.

4) PERFEKSIONIS
Orang yang mengenal saya, pasti tahu kalau saya adalah orang yang super perfeksionis. Sering kali, setelah saya baca garapan saya sendiri, saya merasa tidak puas dan merasa ragu ingin menyerahkan ke pembimbing saya. Jadi saya garap lagi, ulang sini, ulang sana. Well, that's me.

Mungkin setelah mengakui hal-hal negatif dari diri saya, saya bisa mulai melepaskannya satu demi satu. Hahah..

sekian post ngejunk ini... Kalau ada yang mau menambahkan daftar diatas silakan hahaha -___-

Comments

  1. Berbagi itu indah dan ini bukan sampah,,,,,,,,,,

    ReplyDelete
  2. nice words (kopas dr twitter hhhh)

    ReplyDelete
  3. berbagi itu indah dan bukan sampah.........[2]

    yang nomor 1 itu lho hambatan terbesar... rasa malas!!! -_-"

    ReplyDelete
  4. malasfeksionis qi -__-"
    ayo berjuang!!

    ReplyDelete
  5. rasa malas itu musuh besar bagi kita, FIGHT! iku penyakit kumatan tenan og....

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

The Two Most Influential Postmodernist Thinkers

This second post about postmodernism will consist of two greatest postmodernist thinkers and their contribution to postmodernism.
1. Jean Fran├žois Lyotard.
Lyotard is a French philosopher. He opened the discussion for postmodernism in social theory with his groundbreaking publication ‘La Condition Postmoderne’ (The Condition Postmodern). His works stress the decline of meta-narratives or grand-narratives, as some scholars refer it. Meta-Narratives as defined in the previous post are sets of ideas governing what is right and wrong. For example, religion defines how to live a good life. By doing so, people who do not appeal to the characteristics of good man as defined by religion will be considered unfaithful, as bad people. Lyotard argues that this way of legitimating declines in a postmodern society. What is considered good can no longer be clearly separated from what is considered bad.

The decline of meta-narratives was triggered by communication development. Traditional communicatio…

Movie Review | Stream of Tears in Wedding Dress

Last Saturday, I got a runny nose -kind of severe, as I recalled- not because of sick, but because I watched a Korean movie entitled WeddingDress.
I have frequently watched Korean movies. In my opinion, they are much better than Indonesian movies. Not that I dislike my country (I just dislike Indonesia’s movies), but yeah, Korean movies have a wide range of preference. You can watch cheesy-funny-romantic movie that make you feel happy and smile all the time. Or try to watch a horror-romanticmovie that makes you laugh and scared. You can also find cool action movie! Some movies even make me cry a lot. I really mean it when I say some Korean movies really make me cry so badly. Wedding Dress is one that makes me cry. I am a boy and I cry. So what? I don’t buy the ubiquitous saying ‘Boys don’t cry’.

Wedding Dress narrates the life of a single mother, Go-eun, played by Song Yun Ah. Her husband dies already, leaving her only with her young daughter, So-ra, nicely played by Kim Hyang-gi. …

Gender Issues in Japanese Anime and Manga

I've got this idea to write about Japan's popular culture for  some times. Firstly, I love Japan's popular culture such as anime and manga.Japan's anime and manga are so popular around the world, transcending nations, age, sex and gender. I read Japan's  manga from the age of 10 (may be), until now. I watched Japan's anime also for years.

One thing that really makes me wonder is about the depiction of gender in those popular culture product. Before furthering the discussion, it is important to say that i follow Ann Oakley's argumentation to differ sex and gender. Sex is naturally determined, while gender is socioculturally constructed. Thus, to speak of male and female is to speak of sex. While to speak of masculine and feminine is to speak of gender. In doing gender (attributing gender characteristics in body), people are for so long stereotyped by the existing binary relation. It means that male should develop masculine traits to be called as a real man.…