Skip to main content

Wanita Korea yang "Perkasa"

Hari ini, serial drama korea Dong Yi yang ditayangkan oleh Indosiar berakhir. Besok, serial The Great Queen Soendoek akan ditayangkan ulang. Dulu, stasiun televisi yang sekarang memfokuskan diri pada drama asia ini menayangkan serial Jewel in the Palace. Kalau dilihat, Korea (dalam hal ini yang dimaksud adalah Korea Selatan) memang sering membuat produk serial kolosal yang menayangkan wanita Korea yang mampu meraih status tertinggi di masyarakat pada zaman dahulu kala.

Dong Yi, selir kesayangan Raja Sukjong  
Ketiga serial ini (Dong Yi, The Great Queen Soendoek dan Jewel in the Palace) berdasar pada sejarah yang benar – benar terjadi di Korea. Ketiga tokoh utama yang ada di serial tersebut nyata. Dong Yi, mengkisahkan seorang wanita dari kelas rakyat jelata yang mampu menjadi selir istana kesayangan raja. Namun, di akhir hidupnya, ia memilih untuk tinggal di istana, mengabdikan hidupnya untuk rakyat jelata.
The Great Queen Soendoek mengisahkan perebutan tahta di kerajaan Shilla antara seorang selir raja (Lady Mishil) yang ingin menjadi raja dengan putri kembar sang raja, putri Deokman. Kedua sosok wanita di film ini
digambarkan sebagai sosok wanita yang sangat kuat dan disegani oleh semua pihak. Sementara itu, Jewel in the Palace, mengisahkan Jang Geum yang mencoba untuk menjadi dayang di bagian dapur istana hingga pada akhirnya malah menjadi tabib wanita tertinggi khusus untuk raja. Jang Geum pada akhirnya harus melarikan diri dari istana karena ingin melakukan pembedahan pada tubuh raja.Tabi-tabib pria yang merasa ‘tersaingi’ oleh seorang wanita menganggapnya sebagai hal yang tak masuk akal dan menuduh Jang Geum ingin membunuh raja.

Lady Mishil (kanan) berebut tahta dengan Putri Deokaman (kiri)
Banyak yang bisa kita tangkap dari ketiga serial bagian produk budaya popular Korea ini. Saya sering bertanya, mengapa Korea sering memproduksi serial kolosal (yang bertema jaman dahulu) yang mengekspos kisah wanita yang menjadi “ikon” di jamannya? Mishil dan Deokman hidup pada tahun 400-600 Masehi. Dong Yi hidup pada tahun 1700-an Masehi. Jang Geum hidup pada tahun 1400-an Masehi. Dari hal ini, Korea sepertinya ingin mengatakan bahwa sejak dahulu kala, wanita Korea sudah memulai ‘women’s movement’ dimana di dunia barat terjadi pada tahun 1800an (di Amerika). Ketiga drama Korea ini sepertinya ingin menunjukkan bahwa wanita Korea lebih ‘maju’ beberapa ratus tahun dari wanita Amerika, mengingat kedua negara ini sama-sama sedang bertarung dalam globalisasi. Dari ketiga serial ini saya bisa menyimpulkan bahwa Korea ingin mengekspor ideologi bahwa wanita di Korea dianggap lebih ‘equal’ daripada wanita di belahan bumi barat.
Jang Geum, sosok legendaris yang menjadi tabib wanita khusus raja pertama
Ketiga serial drama ini sama-sama merepresentasikan sosok wanita yang “kuat”. Kuat disini tidak diartikan sebagai sosok wanita yang pandai berkelahi namun tetap manis seperti Buffy atau wanita yang berpawakan ‘maskulin’ seperti pada sosok Xena. Dong Yi, Jang Geum, Mishil dan Deokman saya anggap kuat, karena mereka menentang budaya patriarki di lingkungan mereka. Mereka tidak pandai berkelahi namun masing masing memiliki kecerdasan yang luar biasa, melebihi pria-pria di sekitarnya. Mereka malah menjadi pusat dari grup mereka, menjadi penggerak grup nya. Mereka tidak ditampilkan sebagai wanita yang lemah yang selalu membutuhkan pertolongan. Kalaupun mereka ditolong, itu pun pada saat yang sangat terdesak. Itupun mereka tidak ditampilkan sebagai sosok yang menangis meminta bantuan. Ideologi wanita “kuat” ala Korea inilah pesan selanjutnya yang ingin mereka berikan pada penontonnya.

Hal lain yang coba ditampilkan ketiga serial ini adalah wanita juga bisa berkuasa. Pada era sekarang ini, wanita sering diserang akan ketidakmampuan mereka untuk memimpin. Mereka dituduh kurang memiliki leadership skill. Namun, ketiga serial korea ini ingin menunjukkan bahwa pada zaman dahulu, di Korea sudah ada beberapa tokoh wanita yang malah lebih bisa mempimpin daripada pria. Oleh karena itu, “empowering women” sepertinya menjadi hal yang coba ketiga serial ini berikan.
  
        


                 

Ketiga sosok pahlawan wanita Indonesia yang hanya diingat di buku teks pelajaran dan ritual tahunan

Sebenarnya, masih banyak yang bisa digali dari ketiga serial Korea diatas. Namun yang lebih penting adalah kemampuan kita sebagai bangsa Indonesia untuk berkaca pada produk budaya populer korea ini. Kita juga memiliki banyak tokoh wanita pemimpin, sebut saja R.A. Kartini, Cut Nyak Dien, Dewi Sartika dll. Negara ini mengakui banyak pahlawan wanita namun kita sering kali melupakannya.Kalau Indonesia bisa mengopi “musik boyband korea”, mengapa kita tidak mengopi serial drama kolosal korea ini? Mengapa kita tidak mengangkat cerita para pahlawan wanita ke layar kaca?  Memang sudah ada karya film tentang beberapa sosok ini, namun mereka tidak bisa menjangkau banyak warga. Oleh karena itu, lebih baik dibuat versi layar kaca sehingga lebih banyak yang bisa mengaksesnya. Disamping itu, saya juga yakin, banyak yang setuju dengan saya bahwa rakyat Indonesia ingin tayangan yang lebih edukatif di layar kaca mereka. Semoga saja ada produser televisi yang membaca postingan ini dan tergerak hatinya.

Satu lagi, di postingan ini, saya juga ingin mengatakan bahwa tidak semua produk budaya populer korea yang menjamur ini ‘jelek’. Saya percaya bahwa ‘jelek’ atau ‘bagus’ itu sangat relatif. Tak ada suatu totalitas pada suatu hal. Selalu ada dua sisi dalam suatu hal. Mungkin, serial drama kolosal korea ini bisa dianggap sebagai hal yang ‘bagus’, suatu hal yang positif yang patut dan layak ditiru di dunia budaya populer Indonesia.

Comments

  1. Wah iya,anda benar.saya jg sedang nulis ini,,anda duluan yg posting,hhhh

    Tapi konsep wanita di pop culture korea sdh banyak brubah,dn sinetron kolosal ini menarik krn ada sisi lain dri sejarah para wanita di Korea.

    ReplyDelete
  2. Ini menarik diamati loh, mengapa yang dimunculkan adalah wanita-wanita "perkasa" yang hidup pada zaman dahulu? Sementara pada realitas nya, wanita korea "dituduh" paling gethol melakukan operasi plastik. Ini kan ada kontradiksi dan paradoks. Ini bisa kamu amati hahaha

    ReplyDelete
  3. mas, tulisanmu salah... bukan soendoek tapi seondeok....

    ReplyDelete
  4. aku malah belum liat e.. 2 drama Korea tersebut.. kata tanteku sih bagus..

    yup betul juga, seandainya Indonesia membuat tayangan tentang sosok wanita yg sperti RA Kartini, Cut Nyak Dien, atau Dewi Sartika.. pasti mendobrak dunia pertelevisian Indonesia..

    kapan ya pertelevisian Indonesia bisa menghasilkan serial yg lebih mendidik??? (kita tunggu saja)

    ReplyDelete
  5. dong yi paling bagus,ada 4 kekuatan wanita yang berbeda dan mempengaruhi satu kekuasaan tertinggi yaitu raja pada masanya...bisa diulas lebih detail itu, (dong yi, queen in hyeon, lady jang, queen in won)..terima kasih

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

The Two Most Influential Postmodernist Thinkers

This second post about postmodernism will consist of two greatest postmodernist thinkers and their contribution to postmodernism.
1. Jean Fran├žois Lyotard.
Lyotard is a French philosopher. He opened the discussion for postmodernism in social theory with his groundbreaking publication ‘La Condition Postmoderne’ (The Condition Postmodern). His works stress the decline of meta-narratives or grand-narratives, as some scholars refer it. Meta-Narratives as defined in the previous post are sets of ideas governing what is right and wrong. For example, religion defines how to live a good life. By doing so, people who do not appeal to the characteristics of good man as defined by religion will be considered unfaithful, as bad people. Lyotard argues that this way of legitimating declines in a postmodern society. What is considered good can no longer be clearly separated from what is considered bad.

The decline of meta-narratives was triggered by communication development. Traditional communicatio…

Movie Review | Stream of Tears in Wedding Dress

Last Saturday, I got a runny nose -kind of severe, as I recalled- not because of sick, but because I watched a Korean movie entitled WeddingDress.
I have frequently watched Korean movies. In my opinion, they are much better than Indonesian movies. Not that I dislike my country (I just dislike Indonesia’s movies), but yeah, Korean movies have a wide range of preference. You can watch cheesy-funny-romantic movie that make you feel happy and smile all the time. Or try to watch a horror-romanticmovie that makes you laugh and scared. You can also find cool action movie! Some movies even make me cry a lot. I really mean it when I say some Korean movies really make me cry so badly. Wedding Dress is one that makes me cry. I am a boy and I cry. So what? I don’t buy the ubiquitous saying ‘Boys don’t cry’.

Wedding Dress narrates the life of a single mother, Go-eun, played by Song Yun Ah. Her husband dies already, leaving her only with her young daughter, So-ra, nicely played by Kim Hyang-gi. …

Gender Issues in Japanese Anime and Manga

I've got this idea to write about Japan's popular culture for  some times. Firstly, I love Japan's popular culture such as anime and manga.Japan's anime and manga are so popular around the world, transcending nations, age, sex and gender. I read Japan's  manga from the age of 10 (may be), until now. I watched Japan's anime also for years.

One thing that really makes me wonder is about the depiction of gender in those popular culture product. Before furthering the discussion, it is important to say that i follow Ann Oakley's argumentation to differ sex and gender. Sex is naturally determined, while gender is socioculturally constructed. Thus, to speak of male and female is to speak of sex. While to speak of masculine and feminine is to speak of gender. In doing gender (attributing gender characteristics in body), people are for so long stereotyped by the existing binary relation. It means that male should develop masculine traits to be called as a real man.…